Su Dong Po, atau yang lebih dikenal sebagai Shu Shi merupakan seorang sastrawan dan negarawan terkenal pada masa Dinasti Song. Suatu hari Su Dong Po menulis surat kepada gurunya, seorang biksu yang tinggal di biara seberang sungai.

 

“Guru, kini murid sudah mencapai tingkat spiritual ‘tidak goyah oleh goncangan 8 angin’. Kini jiwa murid tegar bagai gunung, tenang bagai air telaga, dan lembut bagai awan di angkasa.” Begitulah kira-kira isi surat Su Dong Po, membanggakan pencapaian dirinya.

 

Adapun ‘goncangan 8 angin’ yang dimaksud adalah delapan kondisi hidup manusia, yaitu: ‘Pujian dan Penghinaan’, ‘Popularitas dan Nama Buruk’, ‘Aman Sejahtera dan Mara Bahaya’, serta ‘Berkah dan Musibah’.

 

Singkat cerita, sampailah surat tersebut ke tangan sang Guru. Setelah membaca, Sang guru dengan senyum sabar membalas surat muridnya. Su Dong Bo pun dengan bangga membuka surat dari gurunya.

 

Tak dinyana, dalam surat hanya tertulis satu kata:

“Kentut (bohong)!”

 

Su Dong Po langsung naik pitam.

”Guru sungguh keterlaluan, selalu negative thinking, suka curiga, prejudice, berprasangka buruk! Aku harus segera menemui guru, ku ajak debat terbuka, akan kubuktikan kalau aku tidak bohong!” teriak Dong Po.

 

Dia pun segera mendayung sampan menyeberang sungai. Setelah tiba di seberang sungai lalu bergegas menuju biara gurunya.

 

Baru mau mengetuk pintu biara, tangannya tertahan, mukanya yang merah padam menahan marah seketika berubah pucat. Kesombongannya hilang berganti rasa malu. Dengan kepala menunduk, melangkah pelan kembali ke sampannya, mendayung pulang.

 

Apa yang terjadi?

 

Di depan pintu biara, gurunya menempel secarik kertas bertuliskan:

“Katanya tidak goyah oleh goncangan 8 angin?

Ternyata hanya dengan sebuah kata ‘Kentut’ saja kamu sudah terpukul dan terpelanting hingga menyeberang sungai.”

 

[email protected]==---

 

Ilmu dan pengetahuan (apapun jenisnya) tidak cukup hanya dihafalkan atau dipahami semata. Namun haruslah diterapkan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Praktek dan penerapan terus-menerus setiap hari itulah yang justru membawa pemahaman mencapai tingkatan yang lebih tinggi. Bukan sebaliknya.

 

Bagaimana pendapat Anda?

 

Panji R.

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

Note: Cerita diatas di comot sana-sini dari berbagai sumber.